jump to navigation

Abdul Qadir Al-Jailani 2 Desember 2006

Posted by Muslim in Islam, Kisah, Kisah Islam, Kisah teladan, Muslim, Nabawiyah, Sejarah Islam, Sholeh, Siroh, Siroh Islam, Ulama, Ulama Islam, www.mediamuslim.info.
trackback

MediaMuslim.Info - Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Alloh.” (QS: Al Jin:18)

Kelahirannya
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

Pendidikannya
Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Pemahamannya
Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Para Pendahulu Islam Yang Sholeh. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Alloh) di arah atas, berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Alloh berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain, -seperti Alloh dihati atau dimana-mana, ini adalah keyakinan batil-). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy.

Dakwahnya
Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Wafatnya
Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

Pendapat ulama
Ketika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, “Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”

Ibnu Rajab juga berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. “

Imam Adz Dzahabi mengatakan, “intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.” (Syiar XX/451).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.”

(Sumber Rujukan: Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali)

Komentar»

1. snowman - 23 Januari 2007

dalam rencana di atas, saudara telah menyatakan kita tidak boleh menjadikan orang yang telah meninggal dunia sebagai perantara, (dalam rencana di atas merujuk kepada Syaikh Abdul Kadir Al Jailani); Jika begitu, adakah kita perlu bergantung kepada orang yang masih lagi hidup untuk menyampaikan segala doa kita? bolehkah para ulamak kita jadikan pegangan yang menjamin dunia dan akhirat?

2. Teguh Prihattanto - 13 November 2007

Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Alloh.” (QS: Al Jin:18)

3. mcryan - 19 November 2007

that’s very nice story about our great sheikh, salut to u & i’ll wait others story of u. thanks lot…

4. biarawati - 30 November 2007

Makanya ada yang melakukan itu juga tentunya punya dalilnya, entah itu secara tegas dikatakan maupun diperoleh dari hal-hal yang dipelajari. Kalo tidak salah ada hal-hal yang secara tegas dikatakan dan ada pula yang disamarkan, misalnya perumpamaan. Karenanya sangat terbuka untuk berbagai kesimpulan. Namun meskipun begitu Al Quran menjamin pemahaman yang sama bagi orang-orang yang memang disucikan untuk dapat memahaminya.

5. sapran - 5 Desember 2007

bagaimana kita seharusnya beribadah kepada allah

6. Bryssandraga - 8 Desember 2007

Silahkan baca buku putih Syaikh Abdul Qadir Al Jailani hasil desertasi Dr. Said bin Musfir Al-Qahthani semoga anda akan menemukan kebenaran tentang beliau

7. Ibnu Nazar - 13 Mei 2008

kebanyakan orang memberikan pendapat hanya berdasarkan pendapat dan faham yang di milkinya, tentang Syeh ini beliau sangat terkenal seantaro dunia muslim baik di timur dan di barat. dengan karomah yang besar yang di anugrahkankan kepada beliau. mungkin baiknya bacalah surat al baqoroh di situ Allah Swt mengatakan percaya kepada yang Ghaib…karamah yang dimilik beliau adalah sebuah tanda keghaiban yang ditampakkan Allah Swt. kecintaan sebagian kaum muslim kepadanya bukanlah mengurangi kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad Saw…mungkin Allah SWT akan menampakkan keghaiban2 pada orang lain yang menunjukkan kekuasaannya….

8. arif mardias - 14 Mei 2008

seandainya begitu banyak pengikut syech Abdul Qadir Jaelani yang menyanjungnya, itu berarti beliau telah membiarkan dirinya di kultus individukan oleh pengikutnya dan itu berarti beliau telah gagal menyampaikan ajaran yang sesungguhnya kepada pengikutnya.

9. jokotarup - 10 Juni 2008

top banget deh

10. rianto - 6 Juli 2008

ya allah ………………………………

11. anti-wahabi - 5 September 2008

Salam. satu pertanyaan..apakah bezanya org hidup dan org yg mati disisi Allah swt? tiada bezanya bukan? jadi dengan menyatakan cuma boleh bertawassul dengan orang yang hidup, ialah mengakui yang orang yang hidup itu “memberi bekas”. Sedangkan dalam Aqidah ASWJ, cuma Allah yang memberi bekas! Pandangan ini merupakan syirik yang lebih besar sebenarnya. tiada beza antara tawassul dgn org yg hidup dgn yang telah mati, kerana bukan org atau doa itu yg memberi bekas, tetapi Allah swt jua. Jazakallah.

12. IRFAN - 7 Oktober 2008

PENDAPAT BOLEH BEDA ASAL TIDAK MENYIMPANG DARI SYARIAT ISLAM.
M2F BLA DA SLAH KTA

13. hasan basori - 8 Oktober 2008

alhamdulillah jadi dpt wawasan tntng keislaman……….syukronn”"”

14. Amie - 23 Oktober 2008

saya masih penasaran sama doa doa tawasul kepada syekh abdul kadir jailani.. lalu ada yang tahu pasti tidak silsilah beliau apakah memang dari keturunan Nabi? soalnya saya di sini menjumpai bahwa jarak keturunan dengan rosul sangat jauh, kalopun misal ada nabi setelah rosulullah, seharusnya Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husayn bin Fatimah az-Zahra. namun ada juga koment dari Dionbeliau Wali Qutub, cucunda Rasullulah SAW dr Imam Hasan dan Imam Husein.. kalo dah ada titik terang.. kunjungi blog saya ya dan kasih komen di sini atau di sini
sukron ya..

15. silir2angin - 24 Oktober 2008

Assalammu’alaikum…
aku izin link blognya ya…makasih…

16. dend - 13 Januari 2009

mohon maaf,tahun lalu pernah beredar email ttg syech abdul qadir jaelani yg harus mem forward email tsb ke org lain, kalau ada yg msh memilikinya minta tolong utk memforwardnya ke email saya di resco_d7@yahoo.co.id trims

17. Hasan Al Jailani - 10 Februari 2009

“”Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan KESESATAN”"
apakah anda yakin dng yg anda sampaikan diatas… karena barang siapa memulai suatu perbuatan baik/jahat maka akan dipertanggungjawabkan kpd prg tsb di hari akhir… “carilah ilmu walau ke negeri cina” tolong diresapi artinya apa???
“amar ma’ruf nahi munkar”

18. weezard - 10 April 2009

karena barang siapa memulai suatu perbuatan baik/jahat maka akan dipertanggungjawabkan kpd prg tsb di hari akhir… <— biarlah Allah yang menentukan balasan terhadap perbuatan tersebut. Sebagai hamba Allah, kita harus berhati2 apabila menisbahkan amalan kita terhadap makhluk yang lain. sebagai orang yang memulakan perkara baik tersebut, dia sudah mendapat habuan amal jariahnya apabila kita mengamalkan ilmu yang telah diajarkan.

carilah ilmu ke negeri china <— ini merupakan hadith yang diriwayatkan dengan isnad yang diyakini. faqih hadith mentafsirkan kita dituntut untuk mencari ilmu biar apapun halangannya selagi ilmu tersebut memberi manfaat kepada kita. kewajipan menuntut ilmu banyak dihuraikan dalam kitab2 masyhur karangan imam2 besar seperti Imam Syafie, Imam Ghazali, Imam Nawawi dan banyak lagi. Wallahua’lam..

19. wisnu - 21 April 2009

kita berdoa memang kepada Allah..tapi kita mendoakan kekasih Allah
boleh dong…kita mendoakan nabi Muhammad atw sahabatnya apakah dikatakan sesat…..jgn mencari kesalahan tehadap orang lain tapi berkaca lah pada diri kita sendiri sudah kah kita mengenenal diri kita sendiri…Allah tidak akan menutup mata jika hambanya menghadiahkan Alfateha terhadap kekasih-kekasih Allah.

20. adib masykuri - 31 Mei 2009

ya benar.khilafiyah jgn di bahas terus,beribadah aja diperbaiki,terus dan tanyakan hatimu sudah bertaqwa belum dirimu,terus…terus dan ajal tiba,disitu akan kita buktikan apakah amal yg kita lakukan ada artinya bagi kita atau tdk,setiap zarah amal kita akan di nilai di hadapan allah,kalau amalan itu dapat mendekatkan diri pada allah kenapa tidak????

21. barkah - 10 Juni 2009

Pendapat boleh berbeda, dan kita harus menghormatinya, yang penting kita dalam beribadah harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh nabi Muhammad saw dan penuh dengan keikhlasan didalam hati, tidak dengan keterpaksaan atau hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Hanya Allah SWT yang tahu yang ada dalam hati kita. maaf bila ada kata yang salah, maklum saya bukan ustad apalagi ulama.

22. Aby - 31 Juli 2009

Bicara ttg khilafiyah, ibarat seseorang yang hobby makan bakso sedang yang lain senang soto. Yang hobby makan bakso akan bilang bakso enak demikian pula yang senang soto. Salah satu diantara dari mereka tidak mempunyai hak untuk memaksa orang lain untuk menyukai apa yang dia sukai. Mari kita nikmati kesukaan kita masing-masing sambil berhusnudzon yang kita amalkan itu akan dinilai oleh Allah Swt sesuai dengan keikhlasan masing-masing.

23. 78 - 6 Oktober 2009

Benar kata Aby. janganlah menakar ilmu dan pemahaman orang lain dengan ukuran yang kita punya saja tapi padang lah dunia yang luas ini dng syahadat kepada Allah.

24. ojolali - 31 Oktober 2009

emang benar kalau antara hak dan batil tidak perna menyatu . .