jump to navigation

Barirah, Seorang Sahaya Yang Ingin Mendapatkan Kemerdekaannya 5 Januari 2007

Posted by Muslim in Al Kisah, Islam, Kisah, Kisah Islam, Kisah teladan, life, Muslim, Nabawiyah, Sejarah Islam, Sholeh, Siroh, Siroh Islam, Ulama, Ulama Islam, www.mediamuslim.info.
trackback

MediaMuslim.Info – Barirah adalah seorang sahaya (budak) milik salah seorang dari Bani Hilal. Suaminya seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah, bernama Mughits. Barirah radhiAllohu ‘anha menginginkan kemerdekaan dirinya. Dia pun mengikat perjanjian dengan tuannya untuk membayar sembilan uqiyah sebagai harga dirinya. Dalam setahun, dia membayar satu uqiyah.

Barirah datang menemui ‘Aisyah radhiAllohu ‘anha untuk meminta bantuannya. Saat itu, ‘Aisyah radhiAllohu ‘anha mengatakan padanya, “Kembalilah pada tuanmu dan katakan, kalau mereka mau, aku akan membayarkan tunai seluruh hargamu, lalu kumerdekakan dirimu dan nanti wala`(bila seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia sementara ia meninggalkan harta, hartanya itu diwarisi oleh orang yang memerdekakannya) mu untukku.” Barirah pun kembali untuk menyampaikan keinginan ‘Aisyah radhiAllohu ‘anha. Namun hasilnya nihil, mereka menolak sembari mengatakan, “Kalau dia mau mengharapkan pahala dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan bantuannya padamu, maka hendaknya dia lakukan, sementara wala`mu tetap untuk kami.”Barirah mengadukan penolakan mereka kepada ‘Aisyah radhiAllohu ‘anha, “Aku telah menawarkan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak, kecuali bila wala`ku untuk mereka.”

Hal itu didengar oleh Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun bertanya, “Apa permasalahan Barirah?” ‘Aisyah menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan ‘Aisyah, Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Belilah dia, lalu merdekakan. Sesungguhnya wala` itu bagi orang yang memerdekakan.” Setelah itu beliau bangkit untuk berkhutbah di hadapan manusia. Setelah memuji dan menyanjung Alloh Subhanahu wa Ta’ala beliau bersabda, yang artinya: “Bagaimana kiranya keadaan suatu kaum, mereka mengajukan syarat yang tidak ada di dalam Kitabulloh. Syarat mana pun yang tidak ada di dalam Kitabulloh, maka syarat itu batil, biarpun seratus kali mereka mengajukan syarat. Ketetapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu lebih haq, syarat Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu lebih kokoh. Bagaimana kiranya salah seorang dari mereka bisa mengatakan, ‘Bebaskanlah budakku, wahai Fulan, sementara wala`nya untukku’. Sesungguhnya wala` itu hanya untuk orang yang memerdekakan.”

Akhirnya, Barirah pun mendapatkan kemerdekaan dirinya yang selama ini diimpikan. Ketika itu, Barirah diberi pilihan oleh Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam untuk tetap bersama suaminya atau berpisah darinya. Namun, Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam mengiringi pula dengan nasihat agar Barirah tetap mempertahankan pernikahannya. Barirah lalu bertanya kepada beliau, “Wahai Rasululloh, apakah ini sesuatu yang wajib kulakukan?”

“Tidak,” kata Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, “akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.

Maka berpisahlah Barirah dari Mughits. Barirah memilih dirinya, diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits mengikuti Barirah berjalan di jalan-jalan Madinah sembari berlinangan air mata, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Namun, Barirah enggan untuk kembali sembari mengatakan, “Aku tidak membutuhkanmu.” Sampai-sampai Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas radhiAllohu ‘anhu, “Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa benci Barirah terhadap Mughits, dan rasa cinta Mughits pada Barirah?”

Masa ‘iddah Barirah kala itu seperti ‘iddah wanita merdeka yang ditalak. Sebelum dimerdekakan, Barirah biasa membantu ‘Aisyah. Ketika tersebar berita dusta tentang ‘Aisyah yang disebarkan oleh gembong munafikin, Abdullah bin Ubai bin Salul, atas saran ‘Ali bin Abi Thalib radhiAllohu ‘anhu, Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam memanggil Barirah untuk menanyakan tentang keadaan ‘Aisyah. “Wahai Barirah, pernahkah engkau melihat sesuatu pada ‘Aisyah yang membuatmu bimbang?” tanya beliau.

“Demi Dzat Yang mengutusmu dengan Al-Haq,” jawab Barirah, “aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang pantas kucela, kecuali dia itu seorang wanita yang masih sangat muda yang masih suka tertidur di sisi adonan makanan yang dibuat untuk keluarganya hingga datang hewan memakan adonan itu.”

Berbagai kisah dirangkai oleh Barirah dengan keluarga Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, Barirah pernah diberi sedekah daging kambing. Lalu ia pun menghadiahkan kepada keluarga Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Saat itu ‘Aisyah enggan memakannya. Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam pun datang, dan bertanya, “Dari mana daging ini?”

“Barirah yang memberikannya untuk kita dari daging yang disedekahkan baginya,” jawab ‘Aisyah. Maka Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ini sedekah baginya dan hadiah bagi kita darinya.”

Barirah melalui masa hidupnya hingga beberapa masa pemerintahan. Barirah sempat berfirasat bahwa nanti Abdul Malik bin Marwan akan menduduki kepemimpinan kaum muslimin. Disampaikannya firasat ini kepada Abdul Malik bin Marwan jauh-jauh hari sebelum Abdul Malik diangkat sebagai khalifah, ketika Abdul Malik bertemu dengan Barirah di Madinah. Kata Barirah, “Wahai Abdul Malik, aku melihatmu memiliki perangai-perangai yang mulia, dan engkau layak untuk memegang tampuk pemerintahan. Maka bila nanti engkau diserahi kepemimpinan, berhati-hatilah dengan masalah darah kaum muslimin, karena aku pernah mendengar Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya seseorang ditolak dari pintu surga setelah melihat keindahan surga disebabkan darah seorang muslim sepenuh mihjamah (alat untuk berbekam) yang dia tumpahkan tanpa hak.”

Barirah kembali kepada Rabbnya pada masa khilafah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiAllohu ‘anhuma. Barirah maulah Ummu Mukminin ‘Aisyah, semoga Alloh meridhainya….
wallohu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Sumber Rujukan: Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/535); Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1795-1796); Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/256-260);  Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitabul Mukatab, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani; Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/297-304); Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/136-137))

Komentar»

1. P Nono - 25 Januari 2007

harapan saya agar situs ini tetap istiqomah dari berbagai hal, meskipun situs blogs ini tidak lagi dibantu secara pengelolaannya oleh mediamuslim.info, tetapi tetap mengambil artikel terbaik dari mediamuslim.info.

kalau saya boleh tahu, yang menjadi alasan utama mediamuslim.info tidak ikut serta dalam pengembangan blogs simpatisan ini apa?

2. PejuangIslam - 11 Februari 2007

Pak Nono terima kasih dengan saran dan dukungan anda. Semoga kami mampu untuk tetap istiqomah

Adapun alasan dari http://www.mediamuslim.info adalah (melalui email resmi dari pengelola Media Muslim INFO tertanggal 21 Desember 2006):
1. Mereka tidak bisa memperhatikan satu per satu artikel di setiap blogs yang ada (karena terlalu banyaknya blogs kami)
2. Mereka mengizinkan tapi bukan merupakan perwakilan dari langkah mereka.
3. Mereka menghindari hal-hal yang mungkin terjadi dari kelompok yang suka hasad dan dengki.

selain itu mediamuslim.info meminta kami pada awalnya untuk menyerahkan blogs mediamuslim.wordpress.com dibawah pengelolaan langsung tanpa campur tangan kami. namun kami tidak bisa dengan banyak alasan yang bisa diterima mediamuslim.info
dan kami hanya memberikan redirect mediamuslim.co.nr kepada mereka.

Tapi yang jelas, saya tetap senang dan bangga dengan perjuangan http://www.mediamuslim.info

TTD.
Dzulqornain Al Atsary Al Maidani
CP: dzulqornain_muslim@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: