jump to navigation

Agar Wajah Mayat Kita Tidak Dipalingkan 17 November 2006

Posted by Muslim in Islam, Kisah, Kisah Islam, Muslim, Siroh, www.mediamuslim.info.
trackback

MediaMuslim.Info – Ishaq Al-Fazary (wafat pada 188 H), seorang ulama besar yang pernah belajar pada Al-Auza’i, bercerita, ” Dulu ada seorang laki-laki yang sering duduk bersamaku dengan sebagian wajahnya yang tertutup oleh cadar (penutup wajah dari kain yang sering digunakan oleh wanita muslimah untuk menutup wajahnya)

Kepada laki-laki itu aku lalu berkata, ‘Kamu sering duduk bersamaku, tapi mengapa kamu masih tetap saja mengenakan cadar ? Tolong perlihatkan wajahmu itu padaku !’

‘Bersediakah kamu memberikan jaminan keamanan kepadaku ?’ pinta laki-laki itu.

‘Ya,’ jawabku singkat.
‘Dulu aku adalah seorang penggali kubur, lalu ada seorang wanita yang dimakamkan di suatu pemakaman. Aku lalu datang ke pemakaman itu dan membongkarnya. Saat menggali makamnya, alat yang kupakai mengenai sebuah batu bata, lalu kuangkat dan kutaaruh di atas kain selendang. Selanjutnya batu bata itu kupindahkan ke atas kain kafan yang sudah kubentangkan sebelumnya. Aku kemudian membentangkan kain kafan itu lagi seraya berkata pada diri sendiri, ‘Apakah kamu berpendapat, bahwa mayat wanita itu mampu mengalahkan dirimu ?’ Setelah berkata demikian, aku pun berlutut dan menyelonjorkan kaki, kemudian kuangkat tangan mayat wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba mayat wanita itu menampar wajahku,’ kata laki-laki itu kepadaku.

Sejenak kemudian dibukalah cadar penutup wahjahnya, dan ternyata di wajahnya terdapat bekas tamparan tangan mayat wanita yang telah diceritakannya kepadaku

Aku kemudian bertanya, ‘Lalu, bagaimana cerita selanjutnya ?’

‘Aku pun menutup kain sarung dan kafannya, juga mengembalikan tanah timbunannya kembali. Setelah itu, aku lantas bersumpah kepada diriku sendiri, bahwa selamanya aku tidak akan bekerja sebagai penggali kubur lagi,’ kata si laki-laki tadi”

Salah satu periwayat kisah ini berkata, “Aku lalu berkirim surat kepada Al-Auza’i guna memberitahukan hal tersebut dan Al-Auza’i membalas suratku itu sebagai berikut: ‘ Tanyakan saja kepadanya tentang seorang ahli tauhid (maksudnya adalah orang-orang Islam-pen) yang telah wafat dan (ketika dimakamkan) mukanya menghadap ke kiblat, apakah mukanya dipalingkan atau dibiarkan menghadap kiblat?’

Kemudian seorang penulis datang kepadaku, dan aku pun bertanya kepadanya, ‘Tolong ceritakan kepadaku tentang orang-orang Islam yang meninggal dunia. Adakah wajah mereka tetap seperti sediakala (menghadap ke kiblat) atau bagaimana ?’

‘Mayoritas wajah mereka dipalingkan dari kiblat,’ jawabnya singkat.
Mengenai hal itu aku pun berkirim surat kembali kepada Al-Auza’i dan beliau membalasnya, ‘ Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan sesungguhnya kepadaNyalah kita kembali )! (sebanyak 3 kali). Adapun orang yang wajahnya dipalingkan dari kiblat, maka dia meninggal dalam keadaan tidak berpegang teguh dengan sunnah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.’.”

Dari kisah nyata di atas, dapat kita ambil suatu pelajaran, yaitu orang-orang Islam yang tidak berpegang teguh dengan sunnah Nabi Shallaallaahu ‘alaihi wa sallam akan diberi hukuman di dalam kubur, yaitu wajahnya akan berpaling (menoleh) dari arah kiblat, padahal ketika dikubur wajah seorang muslim pasti dihadapkan ke kiblat dulu. Itu hukuman di dalam kubur yang bisa kita lihat, belum lagi yang tidak terlihat, belum lagi yang menanti di neraka nanti.

Lalu bagaimana agar hal itu tak terjadi pada kita? Lalu apakah sunnah Nabi itu? Apakah sunnah itu adalah suatu perkara agama yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa? Jika begitu, kenapa dikatakan oleh Imam Al-Auza’i bahwa orang yang meninggalkan sunnah Nabi mendapat hukuman dipalingkan wajahnya dari arah kiblat? Bukankah seharusnya tidak mendapatkan hukuman jika meninggalkan perkara sunnah ?

Sunnah yang dimaksudkan di sini adalah As-Sunnah yang biasa disebut-sebut oleh ulama hadits. Menurut ahli hadits, As-Sunnah adalah segala hal yang berasal dari Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, pekerjaan, keyakinan, persetujuan, atau sifat akhlak & jasmani beliau yang beliau bawa sebagai syari’at terhadap ummatnya. Dan hal tersebut (As-Sunnah) lebih kita kenal sebagai Al-Hadits.

Penamaan Al-Hadits dengan As-Sunnah pun telah diberikan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, misalnya dalam hadits yang artinya: ” Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku…” (HR: Hakim dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami’:2937),

“Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidiin, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham…” (HR: At-Tirmidzy, Abu Daud, dan Ahmad dari ‘Irbadl bin Sariyah)

Maka jika As-Sunnah dalam hadits-hadits tersebut diartikan sebagai amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa -sebagaimana rumusan ulama fiqh- akan tidak pas. Karena Nabi sendiri mewajibkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah tersebut, bukan hanya menganjurkan saja untuk kemudian jika dilakukan dapat pahala dan jika tidak dilakukan tidak berdosa. Jadi kesimpulannya berpegang teguh dengan As-Sunnah (Al-Hadits) adalah suatu kewajiban bagi kita yang tidak bisa diremehkan.

Alloh Ta a’la sendiri pun telah mewajibkan kita untuk selalu mengikuti segala hal pada diri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, misalnya firman Alloh yang artinya: ” Dan apa saja (segala hal) yang datang dari Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa saja (segala hal ) yang dia larang maka tinggalkanlah” (QS: Al-Hasyr: 7)

” Dan ta’atlah kalian kepada Allah dan kepada Rasul agar kalian dirahmati (olehNya)” (QS: Ali-‘Imraan: 132).

Dan Alloh pun telah mengancam orang-orang yang menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam firmannya yang artinya: ” Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyimpang dari perkaranya (Rasulullah), (bahwa mereka) akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang sangat pedih “ (QS: An-Nuur : 63 ).

Maka marilah kita mulai sekarang untuk berpegang teguh dengan sunnah Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam, mulailah dari mempelajarinya, kemudian menerapkannya pada diri sendiri, keluarga, dan kemudian mendakwahkannya. Mulailah dari hal-hal yang bisa kita lakukan, misalnya dari cara makan beliau, cara tidur beliau, cara bergaul, cara berpakaian, cara wudhu, cara sholat hingga seluruh gerak kehidupan kita terwarnai oleh sunnah Rasululloh shallaallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dan jangan sampai kita menyimpang dari jalan hidup beliau, yang akhirnya kita akan mendapat cobaan atau azab yang sangat pedih, yang salah satu bentuk cobaan tersebut telah muncul pada zaman Imam Al-Auza’i, yaitu wajah mayat orang Islam yang tidak berpegang teguh dengan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dipalingkan dari arah kiblat. Na’uudzubillaahi min dzaalik (Kita berlindung kepada Alloh dari hal tersebut). Wallaahu a’lam

Sumber: www.mediamuslim.info

Komentar»

1. รับดูแลผู้สูงอายุ - 22 Oktober 2014

It’s an amazing piece of writing in support of all the web viewers; they will get benefit from
it I am sure.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: