jump to navigation

Tentang Pembaiatan Anak Mu’awiyah: Yazid bin Mu’awiyah 2 Desember 2006

Posted by Muslim in Islam, Kisah, Kisah Islam, Kisah teladan, Muslim, Nabawiyah, Sejarah Islam, Sholeh, Siroh, Siroh Islam, Ulama, Ulama Islam.
trackback

Pada tahun 50 H, Mu’awiyah menyerukan kepada penduduk Syam untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal. Orang-orang Syam pun membaiatnya. Dengan demikian Mu’awiyah adalah orang pertama yang mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, dan orang pertama yang mewasiatkan kekhilafahan saat dia masih sehat dan segar bugar. Kemudian dia menulis kepada Marwan, gubernur Madinah untuk mengambil baiat penduduk Madinah.

Marwan kemudian berpidato di depan orang-orang dengan berkata, “Sesungguhnya Amirul Mukminin, memandang perlu untuk mengangkat anaknya sebagai khalifah atas kalian setelahnya. Dia bermaksud untuk menerapkan sunnah Abu Bakar dan Umar.”

Abdur Rahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq yang ada di tempat itu bangkit berdiri seraya berkata, “Itu bukan sunnah Abu Bakar dan Umar, ini adalah sunnah kaisar. Karena Abu Bakar dan Umar tidak pernah mewariskan khilafah kepada anak-anaknya, bahkan tidak pula kepada salah seorang keluarganya.”

Pada tahun 51 H, Mu’awiyah menunaikan ibadah haji. Dia mengambil baiat penduduk untuk anaknya. Dia kemudian memanggil Abdullah bin Umar. Setelah Abdullah bin Umar datang dia bersyahadat dan berkata, ‘” Amma ba’ du, wahai Abdullah bin Umar, Anda pernah berkata kepada saya bahwa Anda tidak suka tidur satu malam pun yang di dalamnya tidak ada seorang pemimpin. Saya ingatkan kepada Anda jangan sampai Anda memecah-belah kesatuan kaum muslimin atau Anda berusaha merusak hubungan antara mereka.”

Ibnu Umar membaca hamdalah, kemudian berkata, “Amma ba’du. Sesungguhnya sebelum engkau telah ada beberapa khalifah yang mempunyai beberapa anak, yang anakmu tidak lebih baik dari­pada anak-anak mereka, namun mereka tidak memutuskan untuk memberikan khilafah kepada anak-anaknya sebagaimana yang kamu lakukan kepada anakmu. Mereka membiarkan kaum muslimin untuk menentukan pilihan mereka dalam mengangkat khalifah. Sedangkan engkau memperingatiku agar tidak memecah belah kaum muslimin. Saya tidak akan pernah melakukan itu. Sesungguhnya saya adalah satu dari sekian banyak kaum muslimin. Jika mereka sepakat dalam satu perkara, maka saya akan bersama mereka. Semoga Allah mem­berikan rahmat kepadamu.” Lalu Ibnu Umar keluar.

Mu’awiyah mengutus seseorang untuk menemui salah seorang anak Abu Bakar dan memintanya datang. Tatkala datang, dia membaca syahadat dan berbicara, namun anak Abu Bakar tadi memotong perkataannya seraya berkata, “Sesungguhnya Engkau menginginkan agar kami menyerahkan khilafah yang ada padamu kini kepada anak­mu. Demi Allah, kami tidak akan pernah melakukannya. Demi Allah, kembalikan khilafah dengan cara musyawarah antara kaum muslimin atau kami akan mengacau-balaukan urusan ini.” Dia bangkit dan ber­jalan keluar.

Mu’awiyah berkata, “Ya Allah cukupkanlah dia sebagaimana Engkau sukai.” Mua’wiyyah berkata, “Jangan tergesa-gesa wahai anak Abu Bakar, saya harap Anda jangan mengatakan hal itu kepada pen­duduk Syam sebab saya khawatir mereka mendahuluiku melakukan hal yang tidak baik kepadamu hingga aku beritahukan bahwa engkau telah membaiat kita nanti malam. Setelah itu lakukan apa yang kau mau.”
Kemudian dia meminta Abdullah bin Zubair datang menemuinya.

Dia berkata, “Sesungguhnya engkau ini adalah serigala yang berkoar-­koar, setiap kali kamu keluar dalam lubang kau terjebak ke dalam lubang yang lain. Kau selalu mengagungkan dua orang ini (mungkin yang dia maksud Abu Bakar dan Umar, pent) dan kau tiupkan dalam kerongkongan mereka ucapan-ucapan yang membumbung serta kau bawa keduanya sesuai dengan pendapatmu!”

Abdullah bin Zubair berkata, “Jika kau telah bosan dengan khilafah ini maka mundurlah dan biarkanlah kami membaiat anakmu. Apakah tidak kau lihat bahwa jika kami membaiat anakmu bersamamu, maka kepada siapa kami harus mendengar dan taat? Tak mungkin ada dua baiat sekaligus untuk kalian berdua.” Abdullah bin Zubair keluar dan meninggalkannya.

Mua’wiyyah kemudian berpidato di atas mimbar. Dia memuji Allah dan berkata, “Sesungguhnya kami dapatkan perkataan manusia yang menyimpang. Mereka berkata bahwa Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair tidak mau membaiat Yazid, padahal mereka telah mendengar dan menyatakan ketaatan serta telah membaiatnya.”

Orang-orang Syam berkata, “Demi Allah kami tidak rela hingga mereka benar-benar menyatakan baiat di depan khalayak ramai. Jika tidak, kami akan penggal kepala mereka!”

Mua’wiyyah berkata, :”Subhanallah! Alangkah cepatnya manusia akan menimpakan kejahatan kepada orang-orang Quraisy. Saya tidak ingin mendengar perkataan seperti ini dari kalian setelah hari ini.” Lalu dia turun dari mimbar.

Orang-orang ramai membicarakan bahwa Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair telah membaiat Yazid, namun mereka bertiga menyatakan, “Tidak! Kami tidak pernah membaiatnya.“
Lalu orang-orang mengatakan, “Ya, mereka tidak pernah mem­baiat Yazid.” Setelah peristiwa itu Mu’awiyah kembali ke Syam.
Dari Ibnu al-Munkadir dia berkata bahwa Ibnu Umar berkata tatkala Yazid dibaiat “Jika dia baik, maka kami rela, dan jika dia jahat menjadi bencana maka kami akan sabar.”

Sumber: Tarikh Khulafa’

Sumber: www.kisahislam.com

Komentar»

1. Heri Setiawan - 3 Januari 2007

Loyalitas shahabat kepada pemerintah/khilafah besar sekali ya…
Sepertinya para shahabat juga meragukan kepemimpinan Yazid. Husain pun syahid akibat bentrok dengan tentaranya… hmmm…

2. Hendry - 19 Januari 2008

Jika Pemimpin berniat hanya untuk dunia maka terlaknatlah dirinya

3. Musta'in - 24 Januari 2009

Jagalah selalu niat dalam hati agar tetap mukhlish, karena Allah.

4. Nathanianisa - 5 Februari 2009

Ada bunyi hadist yang isinya sebagai berikut..”…. Semoga Allah tidak mengenyankan perutnya….”….
maksudnya apa yaaa…….

5. Nathanianisa - 5 Februari 2009

Hadist di atas ditujukan kepada Muawiyah………

6. arsy - 9 Juni 2009

Aneh yaa, emang ada nabi menyuruh Muawiyah memBait anaknya, aneh-aneh aja Zamannya Muawaiyah..

7. ahmad - 11 Maret 2010

Itulah sejahat-jahatnya bid’ah, nabi tdk pernah mengangkat putera mahkota ataupun khalifah pengganti, tapi Muawiyah dan para pendukungnya nyata-nyata menentang sunah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam.
Sekarangpun saudi arabia sedang mengikuti jejak Muawiyah, wallahu a’lam.

8. BEDJO - 21 Agustus 2010

ini masa kegelapan umat islam..
masa fitnah…
ane rasa ini lebih ke pride bani muawiyah dgn menzalimi bani hasyim ingat awal2 syiar islam pertama kali siapa musuh terberat Rasullulah)
dan sudah digariskan the winner take all..
maka yazid pun dgn kekuasannya membuat bermacam2 propaganda + hadis palsu..memaksa orng menyumpahi ali dan keturuannya ( ahlulbait)

ttg hadis yg gak kenyang2 itu..
jd critanya Nabi memanggil muawiyah..yg 1 dia lg makan yg kedua dia juga lagi makan..
maka Nabi berkata..semoga Allah membuat dia tidak pernah kenyang ( dan terbukti muawiyah mnjdi orng yg ga pernah puas)..
era korupsi+KKn ya di dinasti ini ..

9. ben.sulaiman - 6 Desember 2010

jangan menyamakan satu golongan dengan golongan lain,seharusnya tarikh di atas dapat menjadikan kesadaran segenap kaum muslimin,bahwa terpecahnya islam di akibatkan oleh segelintir ummatnya yang merasa pongah,maka dari itu bersatulah di bawah panji2 islam!!!!!

10. Emil - 18 Desember 2010

Ternyata orang munafik itu sangat berbahaya. Seperti mu’awiyah dan anaknya yazid.

abu zahrah - 12 September 2012

Berhati-hatilah dalam memvonis manusia, karena bisa jadi tuduhan itu akan kembali ke diri anda, wallahu ‘alam

11. khoir - 3 Oktober 2011

sungguh picik jika orang zaman sekarang membela Muawuyah setelah berlalunya zaman dan terangnya ilmu!!! kalau pada zamannya mungkin masih wajar…

abu zahrah - 12 September 2012

mau dikemanakan hadist tentang keutamaan muawwiyah???
apakah hadist Rasulullah tidak berlaku sepeninggal beliau??
dimana ilmu anda tentang agama?

12. mohd sharudin - 4 Juni 2012

sebenarnya semua yg terlibat dgn pembunuhan saidina husin telah dapat pembalasan didunia lagi.pembalasan yg amat tercela lagi.saidina yazid pun dipendekkaan umurnya oleh allah s.w t.

abu zahrah - 12 September 2012

klo pendeknya umur anda anggap sebagai pembalasan yang amat tercela ataupun adzab dari Allah berarti anda tidak paham dalam beragama, tidak mengenal islam dan jelas kebodohannya. takutlah anda kepada Allah, tidakkah anda mengetahui bahwa anak Rasulullah Meninggal di waktu kecil, apakah itu sebagai bentuk adzab atau pembalasan??

sudar - 13 Desember 2012

jadi anda mendukung Yazid drpd Sayidina Hasan, astaghfirulloh. lihatlah doa Rosulluloh ketika Sayidina Ali menikah dengan Siti Aisyah.

13. mujahid - 23 Agustus 2012

Terlaknatlah org yg membunuh baginda cucu Rasulullah SAW
Terlaknatlah org yg memimpin dg paksaan dan demi nafsu duniamya
Terlaknaylah org yg menyebabkan pecahnya umat islam dari kejayaannya

Audzubillah


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: